Main Saham, Penghasilan Utama atau Tambahan?

Main Saham, Penghasilan Utama atau Tambahan?

Anda dan saya main saham pasti memiliki satu tujuan utama: Mendapatkan profit. Namun pertanyaanya, bisakah profit main saham dijadikan sebagai penghasilan utama? Atau main saham hanyalah digunakan sebagai penghasilan tambahan saja?

Sebenarnya banyak pemain saham yang ingin menjadikan saham sebagai sumber penghasilan utama. Bagi anda pemain saham, jika anda punya pikiran untuk menjadikan saham sebagai penghasilan utama alias trading for a living, ada baiknya anda harus mempertimbangkan baik2 keputusan tersebut. Baca juga: Full Time Trader dan Trading for A Living, Sama atau Beda? 

Dua Keputusan utama kalau anda ingin menjadikan saham sebagai sarana trading for a living adalah pertama anda harus bisa mendapatkan profit konsisten. Kedua, anda harus mampu menghasilkan profit yang mampu mencukupi kebutuhan anda sehari-hari. Baca Juga: Menjadi Full Time Trader - Part IMenjadi Full Time Trader - Part II.  

"Bung Heze, profit yang bisa mencukupi kebutuhan hidup itu yang idealnya berapa banyak?" Tanya anda

Jika anda ingin trading for a living, setidak-tidaknya anda harus mampu profit konsisten selama sebulan. Misalnya anda bisa menghasilkan profit konsisten sebesar 3% sebulan dengan modal 100 juta. 

Artinya, setiap sebulan 'gaji' anda dari trading adalah sebesar Rp3 juta. Apakah uang Rp3 juta bisa cukup untuk kebutuhan anda sehari-hari? Apakah dengan profit Rp3 juta sebulan anda bisa menyisihkan profit anda untuk ditabung? Hanya anda yang bisa menjawabnya.   

Saya terkadang menemukan (walaupun nggak banyak), para pemain saham yang nekad menjadi full time trader, padahal belum mempertimbangkan matang2 keputusan tersebut. Akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang justru kesulitan mengelola keuangan dari trading. 

Jadi, kalau memang anda belum bisa konsisten untung dari saham, modal anda masih belum mencukupi dan kalaupun sudah untung konsisten dan modal mencukupi tetapi profit anda belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka ada baiknya trading digunakan sebagai penghasilan tambahan. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Harga Saham Turun Drastis, Kapan Naik?

Harga Saham Turun Drastis, Kapan Naik?

Pergerakan harga dan grafik saham yang selalu kita amati di software online trading sebenarnya merupakan suatu siklus harga saham. Yap, dan kita baik trader maupun investor harus memahami sikulis harga saham tersebut. 

"Memang apa pentingnya paham fase siklus saham? Yang penting kan bisa profit pak?" Protes anda.

Nah, ini yang akan kita bahas. Sebelum kita masuk ke bahasan lebih lanjut, anda perlu mengetahui dahulu siklus atau fase harga saham. Perhatikan siklus harga saham berikut:  


Pada gambar diatas, kita bisa pelajari bahwa di pasar saham itu ada fase-fase pergerakannya, mulai dari fase optimis sampai masuk ke fase depresi demikian seterusnya. Di fase optimis, trader dan investor akan mulai membeli saham... 

Ketika harga saham naik terus, akan muncul euforia. Di satu sisi mulai muncullah risiko. Setelah harga saham turun, mulailah terjadi cemas, takut, hingga panic selling dan depresi.  

Faktanya, siklus saham yang paling membuat trader dan investor heboh adalah ketika pasar saham sedang turun drastis, seperti yang pernah kita hadapi saat crash market 1998, 2008. Maupun ekonomi lesu di tahun 2015 dan 2020 (wabah virus Corona). 

Pada saat kita memasuki pasar saham yang turun drastis, dan saham-saham bagus harganya turun terus, maka dalam kondisi tersebut pasar saham berada pada fase: 'Cemas', 'takut' dan bahkan bisa masuk pada masa 'panic selling' yang membuat harga saham turun lebih tajam lagi.

Tiga fase (cemas, takut, panic selling) tersebut adalah fase yang paling berat yang harus dilalui semua trader maupun investor saham. Kalau anda sudah pernah mengalami pasar saham strong bearish, saya yakin anda pasti benar2 merasakan ketika pasar saham berada di tiga fase tersebut.  

Pelajari juga: Strategi Trading saat IHSG Strong Bearish. 

Dalam kondisi-kondisi tersebut, biasanya ada banyak upaya yang dilakukan baik oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menekan penurunan saham, misalnya dengan kebijakan auto reject asimetris (misalnya penurunan maksimal harga saham hanya boleh 10%, tapi kenaikan maksimal adalah 25-35%), maupun kebijakan buyback saham. 

Baca juga: Auto Reject Saham Simetris & Asimetris dan Pembelian Kembali (Buyback) Saham. 

Tujuannya untuk menjaga agar pasar saham tidak jatuh terus. Walaupun demikian, cara-cara tersebut biasanya hanya bisa menjaga penurunan harga saham sesaat, karena kalau market sudah panik, takut (fear), maka suka nggak suka pelaku pasar masih akan terus menjual saham. 

Lalu, pada saat kapan harga saham yang turun tersebut akan naik lagi?

Nah, ini adalah jawaban yang relatif, karena turunnya harga saham secara drastis itu juga tergantung penyebabnya. Tahun 1998, kejatuhan harga saham terjadi hampir selama 9 bulan. Tahun 2008, kejatuhan harga saham terjadi kurang lebih 6-7 bulan. 

Demikian juga tahun 2015 kejatuhan harga saham terjadi kurang lebih 6 bulan. Jadi, kita ambil titik tengahnya saja.... 

Kejatuhan harga saham (saat crash market ataupun strong bearish) UMUMNYA terjadi sekitar 6-8 bulan. 

Tetapi, kalau kita lihat siklus harga saham diatas, ketika sudah melalui tiga fase berat tersebut, harga saham tidak akan langsung naik kencang, melainkan ada masa 'peluang emas' dan 'depresi'. 

Masa ini adalah masa di mana harga saham sudah tidak turun sebanyak tiga fase sebelumnya. Saham-saham mulai bergerak sideways dan mulai ada sedikit kenaikan (walaupun masih bisa turun tapi tidak sedalam sebelumnya), serta sentimen2 negatif mulai keluar. 

Dan di masa ini ada masa 'depresi', di mana hal ini terjadi karena pelaku pasar sudah tidak memiliki saham untuk dijual, namun pelaku pasar masih pesimis terhadap market. Disitulah sebenarnya peluang emas anda untuk mulai curi start.

Sekarang, kenapa anda perlu mengetahui hal ini? 

Anda harus pahami siklus market ini supaya anda tidak panik dan terbawa 'arus' ketika berhadapan dengan market yang sedang turun. 

Saat saham2 spada jatuh, banyak trader pesimis, tidak yakin IHSG bakal balik lagi, semua saham dijual, padahal ada yang namanya siklus / fase market, di mana saham yang turun drastis (masuk di tiga fase tersebut), pasti ada saatnya pulih lagi. 

Trader-trader yang panik, pesimis justru tidak bisa mengambil dan melihat peluang ketika pasar saham sudah pulih, sehingga akhirnya trader ketinggalan momen yang bagus. 

Fase saham ini bukan hanya teori, karena kita sudah menghadapinya beberapa kali, yaitu saat crash market 1998 & 2008, dan tahun 2015 saat ekonomi lesu, serta 2020 (wabah virus Corona). 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Teknik Dasar Trading Saham

Teknik Dasar Trading Saham

Mayoritas orang yang membuka akun software online trading, umumnya bertujuan untuk TRADING SAHAM (beli jual saham untuk jangka pendek). Namun banyak trader yang tidak paham apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan pasar saham, karena ada banyak harga saham yang bergerak. Di satu sisi, anda harus memilih beberapa saham saja yang menguntungkan.

Maka dari itu, sebagai trader saham anda tidak disarankan trading / membeli saham jika anda belum memahami ilmu trading saham, yaitu cara-cara untuk mencari saham yang bagus. 

Sebelum trading, pahamilah terlebih dahulu teknik dasar trading saham supaya anda bisa memilih saham yang bagus untuk dibeli. Apa saja teknik dasar trading saham yang harus anda kuasai? Mari kita bahas. 

1. Membaca grafik 

Kalau tujuan anda trading saham, maka anda harus paham cara membaca grafik saham. Grafik saham dasar yaitu kemampuan anda untuk membaca: Candlestick, indikator dasar (umum), support resisten dan analisis tren. Kalau anda bisa membaca grafik, anda akan lebih mudah untuk menyeleksi saham2 yang berpotensi naik. 

Di web Saham Gain ini saya sudah banyak memaparkan cara-cara dasar membaca chart. Anda bisa pelajari beberapa pos saya disini:   


Untuk anda yang ingin trading namun belum paham ilmu membaca chart, pahami dan pelajari dahulu cara membaca grafik saham yang benar. 

2. Memahami bid-offer saham 

Bid offer adalah teknik dasar untuk trading saham. Kalau anda tidak bisa membaca dan menginterpretasikan bid offer untuk trading, anda akan kebingungan menentukan harga saham yang harus anda beli saat itu. 

Bid offer merupakan antrian harga saham. Jika anda paham antrian saham yang benar, anda tidak akan salah menempatkan order beli dan jual saham anda. 

Kalau anda membaca grafik (chart) saham, hal ini juga harus diimbangi dengan kemampuan anda untuk membaca bid-offer, karena bid-offer juga bagian dari candlestick. Cara-cara membaca bid-offer pernah saya bahas disini: 


Jika anda adalah tipikal trader harian (anda ingin beli dan raksaham dalam waktu 1-2 hari saja), maka analisis bid-offer harus anda pahami, karena bid-offer juga bisa digunakan untuk mencari saham-saham yang bagus dalam jangka pendek untuk intraday trading. 

Pelajari juga strategi2 intraday trading & analisis bid-offer saham (analisa tape reading) disini: Ebook Intraday & One Day Trading Saham. 

3. Analisis teknikal lanjutan (Analisis teknikal untuk strategi trading) 

Setelah anda memahami cara-cara dasar membaca grafik dan membaca bid-offer, anda harus memahami analisis teknikal lanjutan. Analisis teknikal lanjutan adalah: Analisa chart pattern, pola-pola candlestick, praktik indikator untuk trading. 

Anda harus mulai mempraktikkan kombinasi analisis teknikal yang simpel yang dapat menghasilkan profit karena analisis teknikal itu ada banyak. Ada analisis teknikal yang mudah untuk digunakan, ada analisis teknikal yang sangat rumit penerapannya. 

Sebagai trader, anda harus bisa menggunakan analisis teknikal yang simpel dan sesuai dengan karakter trading anda. Anda bisa pelajari strategi dan full praktik & strategi analisis teknikal yang bisa anda terapkan secara langsung untuk memilih saham bagus disini:  Buku Saham Analisis Teknikal Pemula - Expert. 

4. Screening saham

Screening saham artinya MEMILIH SAHAM. Memilih saham adalah teknik dasar trading saham. Hal ini karena sebagai trader pemula sampai anda menjadi trader yang expert, anda harus bisa menyeleksi beberapa saham yang menguntungkan dari ratusan jumlah saham di Bursa Efek. 

Banyak trader pemula yang tidak tahu harus membeli saham apa, karena trader tidak mempelajari analisa-analisa untuk screening (memilih) saham. Jadi, mempelajari analisis teknikal juga harus dibarengi dengan pemahaman dan praktik screening saham yang benar. 

Cara-cara screening saham sudah pernah kita bahas disini: Cara Simpel & Efektif Screening Saham Bagus.

Itulah 4 teknik dasar trading saham yang harus anda kuasai sebelum memutuskan untuk trading saham. Percayalah, kalau anda sudah memiliki basic dan paham cara mempraktikkan trading saham yang benar, anda bisa memilih saham berdasarkan analisis dan pertimbangan yang lebih baik, bukan hanya sekedar gambling


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Pengalaman Trading Saham Harian

Pengalaman Trading Saham Harian

Beberapa waktu lalu, saya menerima request dari salah satu rekan trader melalui email saya 401xdssh@gmail.com, untuk menulis pos di Saham Gain tentang pengalaman pribadi saya dalam menjalankan trading harian. 

Saya sendiri memang menerapkan strategi trading harian, di samping menjalankan strategi trading lainnya seperti swing trading. Baca juga: Kombinasi Trading Cepat dan Swing Trading. 

Saya juga menuliskan strategi2, praktik dan cara-cara memilih saham yang bagus untuk trading harian / intraday trading. Anda bisa mendapatkan praktik analisa trading harian (357 halaman) disini: Ebook Intraday & One Day Trading Saham. 

Trading harian selama ini bisa diinterpretasikan berbeda-beda oleh trader. Ada yang menganggap trading harian itu identik dengan gambling. Ada yang beranggapan trading harian cepat kaya. Ada yang menganggap trading harian tidak butuh analisa teknikal, cuma butuh analisa live trade saja. 

Namun ada juga yang menganggap trading harian adalah jenis trading yang tepat untuk menghasilkan profit jangka pendek. Trading harian bisa memberikan return yang lebih maksimal dibandingkan hold saham terlalu lama. 

Nah, di pos ini saya akan memberikan pandangan berdasarkan pengalaman saya pribadi menjalankan trading harian di saham. Setidaknya ada beberapa poin penting tentang trading harian yang saya pribadi sudah jalankan sampai saat ini: 

1. Trading harian membutuhkan analisa teknikal, dan kemampuan mencari saham yang bagus

Walaupun take profit trading harian dilakukan dengan jangka waktu yang lebih singkat, namun anda harus tetap memilih saham berdasarkan analisa teknikal, memilih saham2 yang punya fluktuatif bagus, likuid, dan momentum tradingnya tepat. Baca juga: Strategi Memilih Saham untuk Trading Harian. 

Trading harian bukan berarti anda membeli saham-saham yang berisiko tinggi untuk trading. Jadi sebenarnya trading harian itu tidak ada bedanya dengan strategi trading lain yang time framenya lebih panjang: Semua sama-sama perlu analisa teknikal. Semua sama-sama perlu mencari saham yang pergerakannya likuid. 

Selain itu, trading harian juga memerlukan analisa tape reading selain analisa teknikal. Nah, analisa tape reading ini hanya bisa dilakukan pada saham2 yang punya pergerakan bagus, yang punya potensi naik dalam jangka pendek. Baca pendek: Teknik dan Analisa Tape Reading Saham.

Anda tidak akan bisa untung dari trading harian kalau anda asal mencari saham yang kelihatannya naik tanpa analisa teknikal. Anda hanya akan terjebak pada gambling, di mana trading seperti itu bisa membuat saham anda nyangkut.  

2. Trading harian tidak perlu dilakukan tiap hari / tiap saat 

Berdasarkan pengalaman saya, untuk bisa menghasilkan untung di trading harian, maka perlu dilakukan dengan momentum trading yang tepat. Namun harus anda ketahui, tidak setiap saat kondisi market, kondisi saham memberikan peluang profit. 

Ada kalanya pasar saham dan mayoritas saham mengalami masa bearish yang dalam. Di saat2 seperti itu, anda perlu menggunakan rasionalitas trading anda. 

Anda harus menunggu momen yang tepat untuk membeli saham. Jangan sampai karena anda ingin dapat untung cepat, anda membeli saham setiap hari tanpa melakukan riset dan analisa lebih lanjut. 

Karena trading harian itu tidak harus dilakukan setiap saat. Sama seperti strategi trading lain, belilah saham kalau momentumnya tepat, bukan membeli saham setiap saat.  

3. Kombinasi trading bisa menghasilkan profit yang lebih maksimal 

Kalau anda seorang trading harian, tidak ada salahnya anda mencoba strategi trading lain misalnya swing trading atau trading jangka menengah. Anda bisa membagi modal anda untuk trading cepat dan juga untuk swing trading misalnya. 

Jadi selain anda memiliki modal yang anda putar buat trading cepat, anda juga punya saham yang bisa anda hold untuk jangka waktu yang lebih lama, sehingga anda bisa memaksimalkan potensi profit untuk jangka harian, dan jangka yang lebih panjang. Baca juga: Kombinasi Trading Cepat dan Swing Trading. 

4. Trading harian juga butuh kesabaran menunggu 

Trading harian bukan berarti anda beli saham detik ini, dan kemudian satu menit kemudian saham anda naik sesuai harapan anda. 
Memang hal ini bisa dan sering terjadi. Tetapi ada kalanya anda juga perlu menunggu saham anda naik. 

Misalnya, anda beli saham di pagi hari, dan kemudian jual di sore hari, atau beli saham di hari ini dan anda menunggu saham anda naik keesokan harinya.  

Jadi dalam trading harian, jangan selalu memaksakan untuk bisa take profit dalam hitungan menit (walaupun hal ini mungkin saja bisa terjadi), karena dalam trading harian anda juga harus punya psikologis yang baik, maka perlu bagi anda memiliki kemampuan memilih saham dan juga kesabaran menunggu saham anda naik sesuai target. 

Itulah sedikit banyak hal yang bisa saya ceritakan pada anda tentang trading harian berdasarkan pengalaman saya. Tentunya, masih banyak sekali hal yang bisa saya share pada anda, namun poin2 yang saya tulis di pos ini menjadi poin penting yang bisa memberikan anda fakta2 yang lebih kompleks tentang trading harian saham. 

Seperti apa contoh transaksi trading saham harian yang pernah saya lakukan? Anda bisa lihat contoh-contoh trading saham harian disini: Trading Harian: Contoh Intraday Trading Saham. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Perbedaan Dividen dan Capital Gain

Perbedaan Dividen dan Capital Gain

Kalau anda membeli saham perusahaan go public, anda bisa mendapatkan dua keuntungan utama. Pertama, keuntungan dari capital gain. Capital gain. Kedua, keuntungan yang anda dapatkan dari dividen saham. 

Kalau anda belum paham apa itu capital gain, anda bisa pelajari ilustrasinya disini: Pengertian Capital Gain dan Capital Loss. 

Banyak pemula yang masih belum bisa membedakan keuntungan yang didapatkan dari dividen dan capital gain. Keuntungan saham dari dividen dan capital gain tentu saja berbeda. Apa perbedaannya? Mari kita bahas. 

CAPITAL GAIN

- Selisih keuntungan harga beli dengan harga jual. Jika anda beli saham di harga 1.000 dan jual di 1.200, maka capital gain yang anda dapatkan adalah sebesar Rp200. Artinya, ketika anda beli saham dan jual di harga lebih tinggi, maka itu yang dinamakan dengan capital gain. 

- Jika anda membeli saham, anda tidak selalu mendapatkan capital gain. Misalnya, anda beli saham di harga 1.000, maka bisa jadi harga saham anda turun menjadi 900, sehingga anda belum bisa dikatakan dapat capital gain. Meskipun demikian, anda bisa menunggu saham anda naik menjadi, misalnya Rp1.100, agar anda bisa dapat capital gain (dari kenaikan harga saham).
- Pajak dari capital gain adalah 0,1% dari penjualan saham. 

DIVIDEN

- Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham, bukan keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain). Jadi ketika perusahaan memutuskan membagikan dividen sebesar Rp100 per saham, maka jika anda memegang saham 10 lot, anda akan mendapatkan dividen sebesar Rp100 * 10 lot * 100 lembar saham.

- Dividen yang anda terima sifatnya sudah pasti / tetap. Artinya, jika perusahaan memutuskan bagi dividen Rp100 per saham, maka nilai tersebut tidak akan berubah. Hal ini berbeda dengan capital gain, yang sifatnya tidak pasti (bisa berubah menjadi capital loss). 

- Dividen sifatnya lebih pasif daripada capital gain. Karena nilai dividen yang anda terima nilainya sudah pasti, maka tidak ada fluktuatif harga seperti halnya capital gain.
- Tidak semua perusahaan membagikan dividen. Perlu anda ketahui, tidak semua perusahaan membagikan dividen. Ada juga perusahaan2 yang memutuskan untuk tidak membagi dividen karena alasan2 tertentu (karena rugi bersih, ingin ekspansi usaha dan lain2). 

- Pajak dari dividen sebesar 10%, dari nilai dividen yang anda terima. 

Namun untuk mendapatkan dividen, ada tata cara yang harus anda perhatika. Anda bisa baca artikel saya disini: Arti dan Ilustrasi Pembagian Dividen. 

Jadi kesimpulannya, perbedaan dividen dengan capital gain adalah: Dividen adalah keuntungan yang anda dapatkan dari pembagian laba bersih yang diperoleh perusahaan. Sedangkan capital gain adalah keuntungan dari kenaikan harga saham (jika harga jual lebih tinggi daripada harga beli).

Sehingga kalau kita rangkum dalam tabel, maka berikut perbedaan ringkas dividen dan capital gain:


Perbedaan dividen dan capital gain


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian kembali saham alias buyback adalah salah satu aksi korporasi yang dilakukan perusahaan go public dengan cara membeli kembali saham yang beredar di market. 

Buyback saham biasanya dilakukan ketika harga saham perusahaan turun tajam, sehingga ketika perusahaan membeli kembali saham2nya yang turun, diharapkan harga saham bisa naik lagi (karena banyak permintaan). 

Selain itu, ketika perusahaan melakukan buyback, hal ini diharapkan bisa kembali meningkatkan kepercayaan para trader saham untuk membeli saham tersebut, sehingga harganya bisa naik. 

Kalau anda ingin lebih paham penjelasan buyback, saya sudah pernah menuliskan secara detail mengenai penjelasan buyback saham. Anda bisa pelajari lagi tulisan saya disini: Apa itu Buyback Saham?

Di pos ini, kita tidak akan bahas teori buyback lagi, tapi kita akan masuk ke praktiknya di pasar saham. 

Buyback seringkali dilakukan oleh perusahaan2 go public ketika IHSG turun tajam (otomatis banyak saham yang harganya jatuh) karena sentimen2 negatif. Pada saat-saat tersebut, aksi buyback saham biasanya dianjurkan secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada emiten2, dengan tujuan untuk menjaga harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. 

Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 (saat ekonomi lesu). Saat saham-saham berjatuhan selama kurang lebih 4 bulan, akhirnya OJK turun tangan mengedarkan surat yang mengajurkan emiten2 untuk melakukan buyback saham. 

Selain itu, di awal tahun 2020 (saat wabah virus Corona), banyak harga saham berjatuhan, dan OJK juga mengeluarkan kebijakan buyback saham melalui surat OJK (siaran pers) kepada seluruh perusahaan go public di Indonesia. Ini salah satu contoh surat kebijakan buyback saham dari OJK:  
Pembelian kembali saham
OJK menganjurkan perusahaan2 untuk melakukan buyback tanpa harus melalui RUPS. Namun biasanya tidak semua perusahaan melakukan buyback saham. Umumnya, perusahaan2 blue chip dan emiten2 plat merah (BUMN) yang rajin melakukan buyback ketika harga saham. 

"Lalu apa dampaknya ke harga saham? Apakah dengan buyback harga saham perusahaan bisa naik lagi?"

Salah satu surat buyback saham diatas dikeluarkan tanggal 9 Maret 2020, pada saat itu IHSG lagi jatuh-jatuhnya. Setelah itu, penutupan indeks AS (Dow Jones, Nasdaq dan SP500) ternyata malam harinya juga masih turun sampai -7% lebih. 

Tapi tanggal 10 Maret 2020, saat sesi pre-opening, IHSG ternyata menguat 0,25%. Dan setelah market berjalan (open), IHSG masih naik terus sampai 2,3%. Kenaikan yang fantastis di tengah sentimen negatif dan jatuhhnya bursa AS. 

Jadi kesimpulannya, buyback saham ini memang benar-benar bisa memberikan efek positif ke harga saham, yang bisa membuat saham-saham technical rebound dan diborong oleh trader jangka pendek... 

Hal ini juga terbukti cukup efektif di tahun 2015 saat buyback. Setelah berita anjuran buyback dari OJK, penurunan harga saham lumayan bisa tertahan. 

Jadi sesuai tujuannya, buyback itu dilakukan untuk menekan penurunan harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. Setidaknya ada rebound kencang di tengah penurunan market.   

"Berarti kalau ada berita buyback saham saat saham2 turun kita siap2 beli saham yang banyak ya Pak Heze?" Tanya anda.. 

Tunggu dulu... Kita harus analisa lagi lebih dalam. Sebenarnya kenaikan harga saham karena berita buyback itu hanya terjadi dalam jangka pendek saja. 

Kembali pada kasus diatas... Kalau OJK mengeluarkan surat anjuran buyback tanggal 9 Maret 2020, dan kemudian tanggal 10 Maret 2020 tiba2 IHSG langsung naik kencang, kenaikan harga saham ini bukanlah dikarenakan perusahaan2 melakukan buyback saat itu juga. 

Logikanya, mana mungkin perusahaan2 langsung melakukan buyback dalam jumlah besar hanya dalam waktu kurang dari sehari setelah surat OJK keluar? 

Jadi kenaikan harga saham pasca berita buyback muncul ini sebenarnya lebih dikarenakan EUFORIA PASAR, dan euforia pasar itu biasanya hanya terjadi dalam jangka pendek. 

Karena berita buyback ini, pasar saham jadi lebih optimis dan punya harapan tinggi bahwa perusahaan2 akan buyback, sehingga harga saham bisa mulai naik dan saham2 mulai bisa dimanfaatkan untuk trading.

Nah, kalau nanti banyak emiten benar2 melakukan buyback, hal ini bisa menekan harga saham agar tidak turun terlalu banyak. 

Tapi lebih penting dari itu semua adalah, kita harus tetap mencermati sentimen2 negatif yang sedang terjadi saat itu, karena berita buyback itu hanyalah 'hiburan' sesaat. 

Kalau pasar saham memang masih lesu, tidak ada sentimen positif, kenaikan harga saham biasanya tidak akan bertahan lama.

Artinya, dalam kondisi seperti itu, anda sebaiknya tidak terburu membeli saham dalam jumlah besar hanya karena IHSG naik sebentar. Kalau anda ingin trading, belilah saham dalam jumlah kecil dan tradinglah di saham2 yang mudah rebound yang harganya sudah murah. 

Dan di dalam kondisi pasar saham turun, anda bisa mempertimbangkan untuk trading jangka pendek atau biasa saya sebut 'hit and run'. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Tapi kalau anda adalah tipikal trader yang tidak suka trading jangka pendek, dan ragu-ragu untuk trading di saat pasar saham masih belum pulih, wait and see adalah strategi terbaik untuk anda. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian Kembali (Buyback) Saham

Pembelian kembali saham alias buyback adalah salah satu aksi korporasi yang dilakukan perusahaan go public dengan cara membeli kembali saham yang beredar di market. 

Buyback saham biasanya dilakukan ketika harga saham perusahaan turun tajam, sehingga ketika perusahaan membeli kembali saham2nya yang turun, diharapkan harga saham bisa naik lagi (karena banyak permintaan). 

Selain itu, ketika perusahaan melakukan buyback, hal ini diharapkan bisa kembali meningkatkan kepercayaan para trader saham untuk membeli saham tersebut, sehingga harganya bisa naik. 

Kalau anda ingin lebih paham penjelasan buyback, saya sudah pernah menuliskan secara detail mengenai penjelasan buyback saham. Anda bisa pelajari lagi tulisan saya disini: Apa itu Buyback Saham?

Di pos ini, kita tidak akan bahas teori buyback lagi, tapi kita akan masuk ke praktiknya di pasar saham. 

Buyback seringkali dilakukan oleh perusahaan2 go public ketika IHSG turun tajam (otomatis banyak saham yang harganya jatuh) karena sentimen2 negatif. Pada saat-saat tersebut, aksi buyback saham biasanya dianjurkan secara langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada emiten2, dengan tujuan untuk menjaga harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. 

Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 (saat ekonomi lesu). Saat saham-saham berjatuhan selama kurang lebih 4 bulan, akhirnya OJK turun tangan mengedarkan surat yang mengajurkan emiten2 untuk melakukan buyback saham. 

Selain itu, di awal tahun 2020 (saat wabah virus Corona), banyak harga saham berjatuhan, dan OJK juga mengeluarkan kebijakan buyback saham melalui surat OJK (siaran pers) kepada seluruh perusahaan go public di Indonesia. Ini salah satu contoh surat kebijakan buyback saham dari OJK:  
Pembelian kembali saham
OJK menganjurkan perusahaan2 untuk melakukan buyback tanpa harus melalui RUPS. Namun biasanya tidak semua perusahaan melakukan buyback saham. Umumnya, perusahaan2 blue chip dan emiten2 plat merah (BUMN) yang rajin melakukan buyback ketika harga saham. 

"Lalu apa dampaknya ke harga saham? Apakah dengan buyback harga saham perusahaan bisa naik lagi?"

Salah satu surat buyback saham diatas dikeluarkan tanggal 9 Maret 2020, pada saat itu IHSG lagi jatuh-jatuhnya. Setelah itu, penutupan indeks AS (Dow Jones, Nasdaq dan SP500) ternyata malam harinya juga masih turun sampai -7% lebih. 

Tapi tanggal 10 Maret 2020, saat sesi pre-opening, IHSG ternyata menguat 0,25%. Dan setelah market berjalan (open), IHSG masih naik terus sampai 2,3%. Kenaikan yang fantastis di tengah sentimen negatif dan jatuhhnya bursa AS. 

Jadi kesimpulannya, buyback saham ini memang benar-benar bisa memberikan efek positif ke harga saham, yang bisa membuat saham-saham technical rebound dan diborong oleh trader jangka pendek... 

Hal ini juga terbukti cukup efektif di tahun 2015 saat buyback. Setelah berita anjuran buyback dari OJK, penurunan harga saham lumayan bisa tertahan. 

Jadi sesuai tujuannya, buyback itu dilakukan untuk menekan penurunan harga saham agar tidak jatuh terlalu dalam. Setidaknya ada rebound kencang di tengah penurunan market.   

"Berarti kalau ada berita buyback saham saat saham2 turun kita siap2 beli saham yang banyak ya Pak Heze?" Tanya anda.. 

Tunggu dulu... Kita harus analisa lagi lebih dalam. Sebenarnya kenaikan harga saham karena berita buyback itu hanya terjadi dalam jangka pendek saja. 

Kembali pada kasus diatas... Kalau OJK mengeluarkan surat anjuran buyback tanggal 9 Maret 2020, dan kemudian tanggal 10 Maret 2020 tiba2 IHSG langsung naik kencang, kenaikan harga saham ini bukanlah dikarenakan perusahaan2 melakukan buyback saat itu juga. 

Logikanya, mana mungkin perusahaan2 langsung melakukan buyback dalam jumlah besar hanya dalam waktu kurang dari sehari setelah surat OJK keluar? 

Jadi kenaikan harga saham pasca berita buyback muncul ini sebenarnya lebih dikarenakan EUFORIA PASAR, dan euforia pasar itu biasanya hanya terjadi dalam jangka pendek. 

Karena berita buyback ini, pasar saham jadi lebih optimis dan punya harapan tinggi bahwa perusahaan2 akan buyback, sehingga harga saham bisa mulai naik dan saham2 mulai bisa dimanfaatkan untuk trading.

Nah, kalau nanti banyak emiten benar2 melakukan buyback, hal ini bisa menekan harga saham agar tidak turun terlalu banyak. 

Tapi lebih penting dari itu semua adalah, kita harus tetap mencermati sentimen2 negatif yang sedang terjadi saat itu, karena berita buyback itu hanyalah 'hiburan' sesaat. 

Kalau pasar saham memang masih lesu, tidak ada sentimen positif, kenaikan harga saham biasanya tidak akan bertahan lama.

Artinya, dalam kondisi seperti itu, anda sebaiknya tidak terburu membeli saham dalam jumlah besar hanya karena IHSG naik sebentar. Kalau anda ingin trading, belilah saham dalam jumlah kecil dan tradinglah di saham2 yang mudah rebound yang harganya sudah murah. 

Dan di dalam kondisi pasar saham turun, anda bisa mempertimbangkan untuk trading jangka pendek atau biasa saya sebut 'hit and run'. Pelajari juga: Full Praktik Menemukan Saham Diskon & Murah. 

Tapi kalau anda adalah tipikal trader yang tidak suka trading jangka pendek, dan ragu-ragu untuk trading di saat pasar saham masih belum pulih, wait and see adalah strategi terbaik untuk anda. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.