Analisis Saham vs Feeling

Analisis Saham vs Feeling

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pertanyaan cukup bagus dari seorang rekan trader saham. Pertanyaannya sebagai berikut: "Pak Heze apakah trading saham itu menggunakan feeling? Karena biar bagaimanapun, kita tidak bisa mengetahui harga saham di masa mendatang."

Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, anda harus pahami terlebih dahulu perbedaan ANALISA vs FEELING. 

ANALISA 

Analisa dilakukan dengan pertimbangan, pengetahuan di bidang tertentu, pengambilan keputusan berdasarkan pada hasil analisis dan pertimbangan untung ruginya. Analisa membuat anda dapat melihat peluang-peluang potensial yang menguntungkan.  

FEELING

Feeling (perasaan) dilakukan dengan menebak, mengambil keputusan tanpa didasarkan dari pengetahuan yang mendalam. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa analisa itu sangatlah berbeda dengan feeling. 

Feeling menggunakan perasaan, dan menerka-nerka dalam mengambil keputusan. Sedangkan pengambilan keputusan berdasarkan analisa, ada dasar yang jelas dari pengetahuan. 

Kalau di saham, analisa yang digunakan untuk membeli dan menjual saham adalah ANALISIS TEKNIKAL (trading) dan ANALISIS FUNDAMENTAL (investasi jangka panjang). 

Lalu kenapa banyak yang beranggapan bahwa aktivitas trading saham itu identik dengan feeling? 

Pertama, karena banyak orang yang tidak memahami analisis-analisis yang digunakan untuk trading dan mencari profit dari saham, sehingga tidak sedikit orang berpikir bahwa melihat naik turunnya harga saham itu hanya menggunakan ilmu tebak-menebak. Tentu saja anggapan ini sangat tidak tepat. 

Kedua, memang kita tidak bisa mengetahui harga saham di masa mendatang, sehingga banyak orang menganggap bahwa saham itu identik dengan feeling. Katakanlah harga saham Telkom sekarang adalah 3.900. Apakah anda tahu harga saham TLKM 1 minggu kemudian akan berada di harga berapa? Well, kita semua tidak tahu.

Tetapi dengan analisa saham (teknikal & fundamental), anda bisa memprediksi dan menganalisa titik-titik harga secara lebih akurat untuk anda gunakan sebagai dasar membeli dan menjual saham.

Semakin banyak anda belajar.. Semakin banyak anda praktik.. Semakin banyak pengalaman anda menekuni dunia trading... Maka semakin tinggi kualitas analisa saham anda. Artinya, semakin banyak anda praktik, anda akan membeli saham berdasarkan analisa2 yang matang, bukan hanya mengandalkan feeling. 

Secara kita sadari atau tidak, banyak aktivitas kita sehari-hari itu sebenarnya penuh dengan ketidakpastian. Sebagai contoh, kalau anda memutuskan untuk menjalankan bisnis, anda tidak akan tahu bagaimana perkembangan bisnis anda di hari besok, seminggu kemudian, sebulan kemudian. 

Anda juga mungkin tidak akan pernah menduga tantangan2 dalam bisnis yang akan anda hadapi. Tetapi dengan pengetahuan dan analisa bisnis, anda bisa memprediksi, mengantisipasi risiko dan meningkatkan potensi bisnis lebih baik, sehingga bisnis anda bisa berjalan lebih baik, walaupun anda tidak bisa memastikan masa depan. 

Tapi kalau anda hanya bermain feeling dalam berbisnis, anda tidak punya pengetahuan dan analisa, maka bisnis yang anda jalankan akan berisiko besar untuk rugi. 

Analogi ini sama dengan bisnis saham (trading dan investasi). Sudah paham sampai disini? 

Dengan adanya pos ini, saya berharap agar rekan-rekan bisa memahami perbedaan analisa saham dan feeling. Yup, di pasar saham antara analisa dengan feeling perbedaannya 11:12, karena dalam trading dan investasi kita tidak bisa memastikan masa depan. 

Tetapi dengan adanya analisa, anda bisa mengambil keputusan2 yang lebih bijaksana, akurat, sehingga tidak salah dalam memilih saham. Sedangkan kalau anda hanya pakai feeling, anda tetap tidak tahu saham apa yang potensial yang harus dibeli.  


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Belajar Bandarmologi Saham: Saham SIDO

Belajar Bandarmologi Saham: Saham SIDO

Bandarmologi di dunia saham sudah tidak asing lagi. Banyak trader yang ingin mempelajari dan trading menggunakan keputusan analisa bandamologi. Baca juga: Belajar Bandarmologi atau Analisis Teknikal? 

Kalau anda ingin mendeteksi bandarmologi, anda sebenarnya bisa melihat dan mempelajari pergerakan saham2 yang biasa digoreng oleh bandar. Nah, di pos ini saya akan memberikan contoh saham SIDO yang digoreng bandar. Perhatikan grafik SIDO dibawah ini. 

Belajar Bandarmologi - Saham SIDO
SIDO tampak membentuk tren naik yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ada aksi akumulasi SIDO. Tapi setelah itu SIDO kemudian membentuk tren sideways di harga 800-850. SIDO tidak mengalami kenaikan yang lebih tinggi. Sekarang coba perhatikan lagi grafik SIDO dalam range yang lebih pendek. 

Bandarmologi Saham SIDO
Bandar awalnya melakukan penjualan SIDO secara bertahap, sehingga tampak pada chart (tanda lingkaran), bahwa SIDO mengalami penurunan harga saham secara berangsur tapi pasti. Namun di hari berikutnya, tepatnya di jam penutupan bursa (closing), tiba-tiba saham SIDO langsung dijual secara masif oleh bandar (tanda panah). 

Awalnya SIDO masih berada di rentang harga 815-820. Namun pada saat closing, harga saham SIDO tiba2 langsung anjlok 7% lebih hanya dalam hitungan menit, dan SIDO ditutup di harga 750. 

Tetapi di chart bisa anda lihat bahwa keesokan hari setelah saham SIDO turun begitu banyak, SIDO kembali rebound normal, dan SIDO kembali bergerak di rentang 815-820. 

Nah, jatuhnya saham SIDO sebesar 7% dalam sehari ini adalah 'permainan bandar', di mana bandar memang sengaja menjual saham dalam jumlah besar, karena bandar menilai saham SIDO sudah mahal (hal ini terlihat dari chart sebelumnya di mana SIDO hanya bisa sideways di harga resistennya). 

Apa tujuannya bandar membuang barang dalam sehari, dalam jumlah yang sangat besar? Sudah jelas tujuannya supaya bandar bisa membeli lagi saham SIDO di harga bottom, karena bisa anda lihat bahwa keesokan hari saham SIDO sudah diakumulasi lagi, sehingga harganya kembali bergerak naik. 

Ini adalah salah satu strategi bandar supaya bisa dapat saham di harga murah: Ketika harga saham sudah naik tinggi, bandar akan membuang barang dalam jumlah yang sangat masif. Hal ini bisa terjadi dalam sehari atau lebih dari sehari. Nah, ketika saham sudah benar2 jatuh, bandar akan beli lagi sahamnya, karena saham tersebut sudah murah atau sudah mencapai titik supportnya. 

Kalau anda menemukan saham2 yang tiba2 turun drastis dalam sehari seperti saham SIDO ini (terutama menjelang penutupan), apalagi jika anda sebenarnya sudah dapat sahamnya di harga bagus, anda tidak perlu panic selling.  

Karena dalam banyak kasus, saham-saham yang anjlok banyak dalam sehari, harga saham besoknya sudah kembali normal (Dengan catatan sahamnya adaah saham yang masih likuid, bukan saham-saham lapis tiga yang pergerakannya sangat tidak jelas). 

Dan menurut penulis pribadi, SIDO ini memang kadang2 digoreng, tapi SIDO bukan masuk dalam kriteria saham2 lapis tiga macam KPAS, AKPI dan saham2 lapis tiga yang teknikal dan fundamentalnya tidak layak untuk dibeli. 

Karena sebenarnya semua saham itu ada bandarnya. Hanya bedanya terletak pada kekuatan bandar untuk menggoreng suatu saham. Semakin likuid dan jumlah saham beredar semakin banyak, kemampuan bandar untuk menaik-turunkan harga sesuka hati akan semakin kecil.

"Terus gimana strategi trading di saham2 seperti ini Pak Heze?" Tanya anda

Jika anda saham seperti SIDO ini yang tiba2 harganya anjlok cepat dalam sehari, maka bisa jadi itu adalah strategi bandar yang sengaja menjatuhkan harga, agar besoknya bandar bisa dapat barang yang banyak di harga murah. 

Anda bisa 'mengikuti kemauan bandar', yaitu membeli saham2 yang sedang anjlok ini, dengan catatan keesokan hari sudah mulai ada aksi akumulasi (tidak jatuh lagi). 

Tapi memang saham2 seperti ini agak spekulasi juga, karena pasca penurunannya, biasanya pergerakan naik turunnya cukup cepat, sehingga kadang trader belum sempat membeli, sahamnya sudah naik duluan. 

Nah, kalau anda masih ragu dengan saham2 seperti ini, ada baiknya anda hindari dulu. Kalau mau main aman, pilihlah saham2 yang likuiditasnya lebih oke. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Saham Suspend & Saham Gorengan

Saham Suspend & Saham Gorengan

Di web Saham Gain, beberapa kali kita mengulas tentang pergerakan-pergerakan saham. Dan salah satu pergerakan saham yang berisiko untuk ditradingkan adalah saham-saham gorengan. 

Likuiditas yang kecil dan fluktuatif harga yang tidak terkontrol menyebabkan banyak trader ritel yang terjebak di saham-saham gorengan ini. 

Ada banyak cara untuk mengetahui apakah suatu saham masuk dalam saham gorengan atau tidak. Anda bisa pelajari beberapa ulasan saya disini: Kenali Saham Gorengan di Indonesia

Salah satu cara paling mudah melihat saham gorengan adalah dengan melihat daftar saham yang sedang di suspend oleh Bursa Efek Indonesia. Daftar saham suspen bisa anda lihat di situs IDX berikut: Suspensi Saham IDX. 

Kalau anda belum tahu tentang suspensi saham dan mengapa suatu saham terkena suspen, anda bisa baca tulisan saya disini: Arti dan Ilustrasi Supsensi Saham.  

Intinya, saham-saham yang terkena suspen umumnya adalah saham2 yang bermasalah secara fundamental dan teknikal (pergerakan harganya tidak wajar) dan mayoritas saham2 yang terkena suspen adalah saham2 yang harganya sangat rendah (biasanya dibawah Rp1.000 per saham).

Untuk anda suka trading dan mencari saham2 yang harganya murah, saya menyarankan agar anda menghindari alias blacklist saham-saham yang dalam waktu dekat sedang terkena suspen.  

Hal ini dikarenakan saham-saham yang terkena suspen, ketika masa suspen-nya dibuka oleh Bursa Efek, pergerakan sahamnya biasanya sangat liar dan volatilitasnya tinggi. Banyak saham yang setelah masa suspen, harganya langsung terjun bebas. Contohnya seperti saham POSA berikut ini: 

Saham POSA
Saham POSA sempat terkena suspen selama kurang lebih 2 minggu. Setelah suspensi dibuka (tana lingkaran), saham POSA terus terjun bebas sampai harganya balik ke titik terendah (Rp50). Hal ini juga terjadi pada banyak saham yang pernah terkena kasus suspen (Contohnya seperti saham SIAP, IATA). 

Walaupun ada kemungkinan suatu saham bisa naik tinggi setelah masa suspen, namun ada baiknya anda tidak perlu bertaruh membeli saham2 yang risikonya besar, karena hal ini berbahaya untuk karir trading anda.

Saya seringkali menemukan trader yang tidak berhati-hati dalam membeli saham. Trader membeli saham hanya karena tertarik dengan pergerakan harganya yang sedang cepat. Padahal saham tersebut belum lama terkena kasus suspen. 

Akhirnya saham2 suspen tersebut justru menjadi bumerang bagi trader. Oleh karena itu, anda yang suka mencari saham2 harga murah dengan volatilitas agak tinggi, sering-seringlah cek saham2 yang sedang di suspen (di situs IDX), agar anda tidak terjebak membeli saham2 yang sedang bermasalah.

Berikut ini adalah contoh saham2 yang sedang di suspen oleh Bursa Efek (dibagikan oleh salah satu member di grup FB Saham Gain):  

Klik gambar untuk memperbesar

Saham2 yang di suspen diatas misalnya saham TRAM, SMRU, MYRX adalah saham2 yang waktu itu sangat bermasalah baik secara fundamental dan teknikal (anda bisa cari di Google tentang kasus Bentjok). Dan saham2 yang sudah bermasalah seperti ini, harganya akan cenderung turun sampai di harga gocap. Kalau saham sudah di harga gocap, anda tidak akan bisa menjualnya di pasar reguler. 

Jadi untuk saham-saham yang sedang di-suspen, ada baiknya anda blacklist sahamnya terlebih dahulu dari daftar trading anda. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Strategi Trading Saham untuk Profit Maksimal

Strategi Trading Saham untuk Profit Maksimal

Materi-materi tentang cara membaca grafik, indikator dan analisis teknikal lainnya bisa anda temukan dengan sangat mudah. Anda bisa mencari melalui Google, atau di toko buku yang membahas mengenai analisis teknikal. 

Tetapi dari materi-materi analisis teknikal yang saya saya jumpai, banyak sekali yang belum membahas tentang strategi trading saham lanjutan yang benar-benar bisa diterapkan untuk mencari dan memilih saham yang bagus secara mandiri. Masih banyak pembelajaran2 analisa teknikal yang hanya mengacu pada teori. 

Oleh karena itu, di web Saham Gain ini, saya menerbitkan materi strategi trading saham sebagai praktik trader saham untuk semua level, supaya anda bisa mendapatkan profit maksimal. 

Anda bisa mendapatkan ebooknya disini: Ebook Saham Full Praktik Trading (427 halaman). Berikut cover ebooknya:

Ebook strategi trading saham
Kita akan mempraktikkan strategi-strategi trading saham yang simpel dan dapat dipraktikkan secara langsung untuk mendapatkan profit, dan berdasarkan dari pengalaman trading pribadi. Sehingga, anda tidak hanya sekedar membaca teori, namun mencari celah-celah dalam analisa teknikal yang bisa anda manfaatkan untuk mencari saham bagus.

Dalam mencari saham bagus untuk trading, anda harus menggunakan analisis teknikal dengan cara yang simpel, sehingga anda tidak perlu mempersulit penggunaan analisa teknikal. Berikut strategi-strategi trading saham yang akan anda praktikkan: 

4. Cara akurat menentukan titik support-resisten untuk trading
5. Pola single candlestick paling akurat untuk membaca saham naik 
8. Memilih saham dengan strategi buy on support (BOS) 
9. Manajemen modal (MM) trading
10. Menyusun dan menjalankan trading plan saham 

Well, strategi2 trading tersebut mungkin belum pernah anda temukan di materi-materi belajar saham yang lain. Namun kita bahas semuanya di ebook saham ini: Ebook Trading Saham Full Praktik

Targetnya, anda benar-benar mampu mencari, mempraktikkan sendiri penggunaan2 analisis teknikal untuk mencari profit maksimal, dengan cara yang simpel dan tidak hanya berdasarkan feeling atau gambling

Semua materi strategi trading saham di ebook ini saya susun dengan bahasa yang mudah dipahami, serta menggunakan analisa2 teknikal yang simpel, sehingga anda tidak perlu kesulitan dalam membaca dan menginterpretasikan analisa chart untuk trading. 

Kalau selama ini anda merasa hanya banyak belajar teori analisis teknikal. Anda sudah trading beberapa bulan bahkan beberapa tahun, namun masih belum bisa mempraktikkan analisa teknikal, anda bisa memilih ebook trading saham full praktik ini. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Saham IPO = Saham Gorengan

Saham IPO = Saham Gorengan

Setiap ada saham yang barusan listing / melantai di Bursa Efek (terutama beberapa hari pertama), harga sahamnya biasanya akan naik dengan sangat cepat. Hari pertama bisa naik 30%. Demikian juga beberapa hari setelahnya, saham2 IPO masih bisa lanjut naik sampai puluhan persen. 

Tentu saja pergerakan saham2 IPO ini seringkali membuat para trader saham tergiur untuk mentradingkannya. Siapa yang nggak mau dapat untung 20-30% hanya dalam waktu singkat? 

Saya juga sering menerima pertanyaan teman-teman trader: "Pak apakah ada tips untuk trading di saham2 yang baru IPO? Soalnya biasanya naiknya cepet banget"

Namun kita semua tahu bahwa beberapa ciri saham gorengan adalah kenaikan harga sahamnya yang sangat cepat, dengan likuiditas rendah dan fluktuatif yang nggak wajar. 

"Jadi apakah saham IPO itu masuk dalam kriteria saham gorengan ya Pak Heze?" Tanya anda 

Betul, boleh saya katakan bahwa saham2 IPO mayoritas adalah saham-saham yang bergerak naik-turun tidak wajar, dengan likuiditas yang rendah. Kesimpulannya, banyak saham IPO yang merupakan saham-saham gorengan. 

Dalam 3-4 tahun terakhir, saya memperhatikan saham-saham yang baru IPO selalu punya pergerakan saham yang tidak wajar di awal2 IPO-nya, dan ujung2nya selalu berakhir jadi saham gorengan. Tidak sedikit juga saham2 IPO yang ditinggal bandar. Baca juga: Ciri-ciri Saham yang Ditinggal Bandar. 

Faktanya, walaupun banyak saham IPO yang punya brand ternama, tapi tidak lama kemudian sahamnya selalu berakhir dengan pergerakan harga yang jelek, downtrend dan tidak likuid. Anda bisa perhatikan contohnya seperti saham Garuda Food dan Campina. 

Emiten tersebut punya brand yang cukup terkenal, dan bahkan digadang-gadang akan menjadi saham blue chip yang baru. Namun, fakta justru berkata sebaliknya. Sekarang sahamnya 'tenggelam', nggak banyak dibicarakan, likuiditas sahamnya juga sangat rendah. 

Saham CAMP
Anda bisa lihat contoh saham Ice Cream Campina (CAMP) diatas, di mana tren sahamnya turun terus pasca IPO, dengan volume yang tipis. Dan mayoritas saham IPO selalu punya pergerakan saham yang kurang lebih seperti chart CAMP diatas, bahkan banyak yang pergerakan sahamnya lebih buruk. 

Mengapa hampir semua saham IPO itu pergerakannya seperti saham-saham gorengan? Apakah hal ini menandakan bahwa pasar saham kita tidak sehat? Apakah saham2 IPO masih layak ditradingkan?

Kita semua tidak pernah tahu apa tujuan sebenarnya perusahaan bersedia untuk go public. Secara teori, tujuan perusahaan go public adalah untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal. Tapi saya yakin praktikknya tidak sehitam putih itu. 

Kalau tujuannya hanya untuk itu, saya yakin banyak manajemen perusahaan yang ogah untuk IPO. IPO itu sendiri juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Setelah IPO, perusahaan juga memiliki banyak kewajiban, keterbukaan informasi yang harus diungkapkan ke publik. Perusahaan harus membayar biaya-biaya seperti: 

- Biaya jasa pencatatan tahunan saham pada Bursa Efek. 
Biaya pengawasan ke Otoritas Jasa Keuangan melalui situs SIPO.OJK.GO.ID. 
- Biaya jasa kantor akuntan publik (audit laporan tahunan)
- Biaya jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek ke Kustodian
- Biaya jasa notaris (untuk RUPS)

Dan tentu itu semua costly alias butuh biaya yang tidak sedikit. Di satu sisi, perusahaan harus mengungkapkan keterbukaan informasi yang akurat (jumlah pemegang saham Direksi Komisaris), keterbukaan laporan keuangan kepada publik, kewajiban menyelanggaran RUPS (biaya lagi dan lagi). 

Jadi dalam hal ini untuk bisa mendorong perusahaan2 tertutup agar mau go public, Bursa Efek memberikan insentif2. Beberapa diantaranya adalah memberikan keringanan biaya IPO, dan keringanan minimal jumlah saham beredar. Hal ini karena Bursa Efek juga ingin mengejar target jumlah saham yang IPO di Indonesia. 

Dengan adanya keringanan2 ini, maka mulai banyak perusahaan yang IPO. Jadi nggak heran kalau mayoritas perusahaan2 IPO zaman sekarang sahamnya sangat tidak likuid, karena banyak perusahaan yang "asal-asalan" dalam IPO, mengingat syarat jumlah saham beredarnya tidak sesulit dulu (dengan saham yang sedikit sudah bisa IPO).

Di satu sisi, manajemen perusahaan bersedia IPO karena ada 'tujuan-tujuan lain', yaitu "orang dalam" (owner dan manajemen) ingin mendapatkan KEUNTUNGAN PRIBADI dari kenaikan harga sahamnya di pasar reguler (setelah IPO). 

Bagaimana caranya? Ya dengan "menggoreng" sahamnya sendiri, yang biasanya juga dilakukan melalui 'bantuan pihak ketiga' (bandar). Dari aksi goreng-menggoreng sahamnya sendiri itulah "orang dalam" bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari saham-saham yang berhasil listing di Bursa.

Anda mungkin ingat dengan kasus saham POSA yang digugat melalui jalur hukum karena kegiatan menggoreng saham dalam jumlah masif, yang banyak sekali memakan korban trader ritel. Baca juga: Belajar dari Kasus Saham POSA. 

Apabila anda cermati pergerakan saham2 IPO, hampir semua pergerakan harga sahamnya sangatlah tidak wajar. Setelah saham naik tinggi, harganya bisa jatuh drastis sampai balik lagi ke harga IPO, dan mendadak nyaris tidak ada transaksi sama sekali. 

Ya inilah yang dinamakan dengan permainan bandar dan "orang dalam", karena seperti yang saya tuliskan tadi: Kalau perusahaan dianjurkan untuk IPO hanya dengan tujuan "biar dapat pendanaan segar", "biar nilai perusahaan bertambah", maka manajemen perusahaan juga pasti akan penuh pertimbangan dalam IPO. 

Walaupun sudah ada insentif2 yang diberikan Bursa Efek, tapi tentu saja manajemen juga ingin mendapatkan keuntungan dari saham yang sudah di-listing-kan di pasar saham. Cara satu2nya dengan menaik-turunkan harga saham sesuai keinginannya.

Apalagi dengan keringanan dan insetif2 itu tadi, maka syarat IPO jadi lebih mudah. Dengan saham beredar yang sedikit, perusahaan sudah bisa go public. Semakin sedikit jumlah saham yang dilepas ke market, semakin mudah manajemen untuk 'setting' harga sahamnya. Paham sampai disini? 

SAHAM IPO SANGAT BERISIKO

Nah, kita semua sudah tahu permainan saham-saham IPO ini. Itu artinya, saham IPO adalah saham yang sangat berisiko untuk trading. 

Jujur saja, saya sangat tidak menyarankan anda untuk trading di saham IPO, terutama kalau saham IPO itu baru listing di hari-hari awal. Kalau anda ingin trading di saham2 IPO, saran saya tunggulah paling tidak 1-2 minggu setelah sahamnya IPO dan pergerakannya sudah tidak seliar hari-hari awal. 

Dan untuk saham2 IPO, anda bisa pertimbangkan untuk trading cepat alias scalping. Anda harus jauh lebih disiplin untuk take profit dan cut loss, serta menggunakan modal kecil. 

Mayoritas saham2 IPO tidak bisa kita tebak arah pergerakannya, karena bandar lebih banyak berperan mengatur harganya demi keuntungan manajemen. 

Jadi kalau anda menyimpan saham2 IPO yang tidak likuid dan fundamentalnya juga tidak jelas, maka risikonya akan besar. Contohnya seperti saham SWAT. Baca disini: Saham IPO yang Menjebak Trader: Studi Kasus Saham SWAT. 

Semoga pos ini bisa membuka wawasan kita semua tentang trading saham. Pesan saya, jangan mudah tergiur oleh saham-saham IPO yang selalu jadi top gainer. 

Ada banyak permainan saham IPO yang sangat berpotensi merugikan trader, dan saham2 IPO yang tidak likuid akan sulit untuk dibeli (banyak spread bid-offernya yang renggang). 

Untuk menciptakan portofolio saham yang sehat, prioritaskan untuk membeli saham2 yang bagus secara teknikal dan fundamental.

SAHAM IPO YANG SEHAT 

Kedepan saya (dan anda juga pasti sependapat) sangat berharap agar banyak perusahaan dengan kinerja yang benar2 bagus bisa melantai di Bursa, dan bisa mencatatkan jumlah saham beredar yang banyak, sehingga sahamnya jadi likuid. 

Sebagai trader dan investor, semakin banyak perusahaan sehat yang masuk Bursa, semakin bagus juga kualitas pasar saham dan kesempatan kita meraih profit dan mengurangi risiko akan semakin besar. 

Selain menjalankan aktivitas trading saham, kita semua juga turut berdoa yang terbaik agar kualitas pasar saham kita semakin baik dan berjaya. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Nyangkut di Saham Gorengan

Nyangkut di Saham Gorengan

Saham gorengan, seperti yang kita ketahui adalah saham-saham di Bursa Efek yang memiliki risiko yang cukup tinggi bagi trader. Tidak peduli trader pemula maupun trader saham yang sudah berpengalaman, saham gorengan berpotensi menjebak anda. 

Banyak sekali trader mengalami kerugian besar, akibat nekad membeli saham2 gorengan dalam jumlah besar. Tapi faktanya, saham gorengan ini adalah saham2 yang cukup 'menggoda' untuk trader, karena saham gorengan bisa naik sangat cepat dalam hitungan menit. 

Sehingga, trader yang ingin untung cepat dan nggak mau ribet, masuk di saham-saham gorengan ini. Tapi ada juga kasus-kasus di mana trader sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan saham2 gorengan ini. Namun karena saham2 gorengan tertentu lagi sangat booming, banyak trader yang membicarakannya, banyak trader yang pamer untung dari saham gorengan, ahkirnya trader lain ikut-ikutan beli. 

Alih-alih dapat profit, trader2 yang tergiur dengan saham gorengan mengalami 'nyangkut', dan trader nggak berani jual rugi (cut loss) saham tersebut. Nyangkut di saham gorengan adalah hal yang sering terjadi. 

Tapi yang paling parah, banyak trader yang nyangkut di saham gorengan sampai bertahun-tahun (karena sahamnya nggak balik dan sudah 'ditinggal' bandar).

Hal ini mungkin berbeda dengan saham2 blue chip misalnya. Kalau anda beli saham blue chip dengan momentum yang tepat, lalu saham anda turun beberapa hari, biasanya tidak lama kemudian sahamnya balik naik lagi. 

Saham TRAM
Saham ENRG

Contohnya seperti saham TRAM dan ENRG diatas, di mana saat saham2 ini 'bangun' dari gocap (Rp50), banyak sekali trader yang mulai membahas saham ini. Saat TRAM naik terus ke 350-400, banyak "analis-analis" dadakan yang mengatakan TRAM bakalan ke 500. Harga wajar TRAM 1.000 dan seterusnya. Tapi bisa anda perhatikan grafik TRAM, ternyata TRAM dengan cepat balik lagi ke 100-140. 

Demikian juga dengan saham ENRG, yang pada saat itu ENRG mulai naik ke 200-an, banyak sekali trader yang yakin kalau ENRG bakal tembus 500, entah apa analisisnya, paahal ENRG ini jelas saham gorengan. 

Ya pada akhirnya banyak trader yang ikut2an masuk di harga 200-an ini, dan akhirnya sahamnya nyangkut, karena tidak lama kemudian setelah naik secara fantastis, TRAM balik lagi nyaris ke harga gocap. 

Ini hanya dua contoh. Masih banyak lagi contoh2 di mana trader nyangkut di saham2 gorengan, akibat ikut2an, ataupun beli saham tanpa mengetahui analisa terlebih dahulu. 

Memang bukan berarti saham gorengan sama sekali tidak bisa buat trading. Di pos ini: Cara Trading Cepat 15 Menit - Scalping Trading, saya juga pernah menuliskan praktik cara scalping trading. Namun praktik2 ini dilakukan atas dasar analisa, bukan rumor atau bahkan asal membeli.  

Pesan saya, dalam trading anda harus melakukan RISET dan ANALISA trading sebelum membeli saham. Anda mau beli saham blue chip, saham lapis dua ataupun saham lapis tiga itu tidak masalah sebenarnya. Tidak ada aturan yang mengharuskan dan melarang anda untuk membeli saham2 tertentu. 

Namun jangan lupa melakukan analisa terlebih dahulu. Kalau anda membeli saham dengan keinginan untung cepat, ikut-ikutan trader lain, maka anda harus tahan keputusan anda, dan jangan melakukan eksekusi trading. Baca juga:  Belajar Analisis Teknikal Pemula - Expert. 

Anda yang sudah pengalaman nyangkut di saham gorengan, apalagi kalau pengalaman anda ini sampai membuat stres, nggak bisa tidur, makan nggak enak, maka anda harus melakukan evaluasi. 

Jangan sampai anda mengulang kesalahan yang sama, dengan membeli saham2 lapis tiga tanpa menganalisanya terlebih dahulu, karena saham2 lapis tiga ini memiliki risiko yang lebih besar. 

Hal yang sama sebenarnya juga berlaku untuk saham2 selain saham gorengan. Sebelum anda membeli, anda harus menganalisa dan melakukan riset saham tersebut. Karena tidak ada jaminan kalau anda beli, katakanlah, saham2 di Indeks IDX30 dan Indeks LQ45 anda pasti akan untung. 


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.

Analisa Saham: 2 Penyebab IHSG Turun

Analisa Saham: 2 Penyebab IHSG Turun

Setiap hari IHSG akan selalu bergerak naik dan turun (koreksi). Di pos ini, saya ingin membahas penyebab IHSG turun. Ketika mendengar kata-kata "IHSG turun", mungkin kedengarannya nggak ada yang spesial. 

Akan tetapi di dalam praktikknya, penurunan IHSG seringkali membuat para trader menjadi panic. Padahal dalam kondisi anda panic, anda justru tidak akan bisa mengambil keputusan dengan jernih untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada di market. 

Sebenarnya ada banyak sekali mengapa IHSG bisa turun di saat-saat tertentu. Akan tetapi, ada dua penyebab utama yang membuat IHSG bisa turun / koreksi. Apa saja itu? 

1. Berita / sentimen negatif 

Berita ataupun sentimen negatif bisa membuat IHSG turun. Bahkan ketika IHSG sedang bergerak normal, dan ada sentimen negatif mendadak, IHSG bisa langsung koreksi dengan cepat. 

Sentimen / berita negatif itu bisa bermacam-macam. Misalnya, terdapat berita pertumbuhan ekonomi turun, nilai tukar Rupiah terus melemah dan lain-lain. 

Beberapa waktu lalu IHSG juga sempat anjlok ketika ada berita pembubaran PT Minna Padi Asset Manajemen (MPAM) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Anda bisa baca kasus reksadana Minna Padi di Google (kalau saya jelaskan disini terlalu panjang). 

MPAM ini kan menyimpan banyak saham di portofolio, di mana ada banyak saham yang juga merupakan saham-saham lapis satu (seperti BBRI, BMRI, PGAS) dan saham2 lapis dua seperti ANTM, WIKA, WSKT, PTPP. Jadi otomatis, MPAM harus menjual saham2nya secara bertahap sesuai kewajiban yang ditentukan OJK. 

Karena penjualan saham2 tersebut juga berasal dari saham2 lapis satu dan saham lapis dua (second layer), maka akan ada banyak saham yang turun, yang otomatis juga bisa membuat IHSG drop. 

Efek dominonya, ketika ada berita MNAC akan menjual saham2 dalam jumlah besar (ditambah kasus2 negatif MNAC), maka hal iin akan menimbulkan panic selling pelaku pasar sesaat, sehingga akan membuat IHSG drop lebih banyak. 

Inilah salah satu penyebab IHSG turun, dan hal ini sering sekali terjadi di market (dengan berbagai sentimen2 yang seringkali tidak kita duga).

2. Secara teknikal, IHSG sudah naik banyak 

Yang paling sering menjadi penyebab turunnya IHSG adalah karena secara analisa teknikal IHSG memang sudah naik cukup tinggi. Anda harus pahami konsep di saham bahwa harga saham itu akan selalu bergerak naik dan turun. Pelajari juga: Konsep Trading Saham: Beli Saat Mau Naik, Jual Saat Mau Turun.

Demikian juga dengan IHSG. Ya jelas lah, IHSG kan adalah kumpulan dari pergerakan seluruh harga saham di Bursa Efek. 

Jadi kalau IHSG sudah naik tinggi (karena banyak yang beli saham), secara konsep analisa teknikal, cepat atau lama IHSG pasti akan balik turun  /koreksi sebagai respon dari aksi para trader yang ambil untung / take profit. Sebagai praktiknya, anda bisa lihat IHSG berikut ini: 

IHSG Turun
Perhatikan candlestick terakhir (paling kanan). Anda bisa lihat candlestick tersebut berwarna merah dengan candle yang panjang. Ini artinya IHSG sedang mengalami penurunan tajam di hari itu. 

Hal ini wajar, karena kalau kita perhatikan chart IHSG, IHSG kita juga sudah naik tinggi selama 1 bulan terakhir (tanda panah). Di satu sisi, IHSG juga membentuk pola triple top (tanda lingkaran) yan merupakan sinyal koreksi yang cukup kuat. 

Jadi kalau secara teknikal IHSG saja sudah naik tinggi, yaaa wajar saja kalau IHSG cepat atau lama bakalan koreksi. 

Pos ini menuju satu kesimpulan: Jika anda menemukan banyak saham turun dan IHSG koreksi tajam, selain cek berita yang terjadi, cek juga analisa teknikal (chart) IHSG tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu cara yang bisa anda lakukan untuk mengurangi panic selling saat IHSG turun.


Katalog produk digital dan jasa freelance indonesia, cek dibawah ini.